Mengenal Daur Hidup Cacing Pita

Diposkan oleh david saputra on Minggu, 09 Desember 2012

daur hidup cacing pita

Infeksi cacing pita (taeniasis) merupakan penyakit zoonosis parasiter yang dapat menyebar dan menular di antara hewan vertebrata termasuk juga manusia. Cacing pita termasuk ke dalam genus Taenia, yang terdiri dari 3 spesies, yaitu Taenia saginata, Taenia solium dan Taenia asiatica. Cacing pita jenis T. saginata dan T. solium banyak terdapat pada daging sapi, berbeda dengan jenis T. asiatica yang banyak ditemukan pada daging babi. Daur hidup cacing pita dapat berlangsung di dalam 2 tubuh inang (hospes), yaitu manusia sebagai inang definitif dan babi/sapi sebagai inang perantara. Infeksi cacing pita pada manusia terjadi karena mengkonsumsi daging sapi atau babi yang terkontaminasi cacing pita dewasa, sedangkan sapi dan babi terinfeksi cacing pita melalui tumbuh-tumbuhan yang dimakannya.

Pada manusia cacing pita hidup dan berkembang di dalam saluran pencernaan. Di dalam usus, telur cacing (proglotid gravid) akan menetas membentuk larva yang disebut onkosfer. Larva cacing pita ini berbentuk bulat telur berukuran 10 x 5 mm, berwarna jernih dan mengandung cairan yang khas. Sel larva yang masih muda ini kemudian akan berkembang menjadi cacing pita dewasa. Selanjutnya, cacing pita dewasa akan melekat dan tinggal di dalam usus kecil, panjang cacing pita dewasa sendiri dapat mencapai 2 sampai 5 meter. Sedangkan sebagian larva cacing lainnya akan berkembang menjadi sistiserkus, dan menginvasi jantung, hati, otot, dan organ-organ lainnya pada tubuh sehingga mengakibatkan infeksi sistemik. Daur hidup cacing pita tidak berhenti sampai disini saja, dalam waktu kurang dari dua hingga tiga bulan cacing telah matang secara seksual dan mampu menghasilkan telur lagi untuk melanjutkan keturunannya. Untuk satu cacing pita saja dapat menghasilkan rata-rata 1000 telur. Telur-telur tersebut kemudian dikeluarkan bersama dengan tinja. Di lingkungan telur cacing pita dapat bertahan selama beberapa hari hingga berbulan-bulan lamanya.

Infeksi cacing pita pada saluran pencernaan manusia dapat terjadi karena mengkonsumsi daging mentah yang terkontaminasi atau dimasak kurang matang. Dari sekian besar kasus kejadianinfeksi cacing pita, infeksi cacing pita jenis T. saginata adalah yang paling banyak. Hal ini disebabkan cacing pita ini mempunyai ukuran yang lebih besar (dapat mencapai 10 meter) dibanding cacing pita jenis T. solium atau T. asiatica. Kebanyakan dari penderita akan menunjukkan gejala klinis yang ringan atau asimptomatik. Gejala yang ditimbulkan sering kali berbeda-beda atau tidak patognomonis (khas), seperti nyeri abdominal, anoreksia, penurunan berat badan dan malaise. Namun, pada beberapa kasus cacing pita dapat ditemukan di bagian apendiks, kandung empedu, dan duktus pankreatikus. Khususnya, infeksi T. solium dapat mengakibatkan sistiserkosis parah pada manusia yang berpotensi menyebabkan terjadinya kejang dan kerusakan pada organ tubuh, terutama infeksi pada otak (neurosistiserkosis). Oleh karena itu, untuk mencegah penularannya adalah dengan memutus jalur daur hidup cacing pita, contohnya dengan memasak terlebih dahulu daging dengan matang sebelum dikonsumsi.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

Terima Kasih Sudah Berkunjung ,, Jangan Lupa Berikan Komentarnya Untuk Artikel Ini