Sejak kapan Manusia Mengenal Batu Ginjal..?? Batu
ginjal sudah lama dikenal. Bahkan pada mummi di Mesir 5000 tahun SM
sudah dijumpai. Dari sejarah telah dicatat bahwa banyak tokoh dunia yang
menderita penyakit ini, seperti Napoleon, Newton, George IV dan
lainnya.
Kadangkala batu ginjal
akan menimbulkan gangguan yang ringan sampai yang berat. Atau bahkan
tanpa ada gangguan sama sekali. Oleh karena itu pengenalan terhadap
kemungkinan adanya , Batu ginjal perlu diketahui sedini mungkin, agar.
apabila diduga ada kelainan segera ditangani secepat mungkin untuk
mengurangi pemborosan.
Epidemiologi
Insidensi batu ginjal
pada negara sedang berkembang dan negara sudah maju berbeda. Banyak
faktor yang mempenga-ruhi, antara lain industrialisasi, urbanisasi,
derajat ekonomi dan social. Di samping itu faktor jenis kelamin, ras,
pekerjaan, ildim juga mempengaruhi insidensi batu ginjal. Pernah
dilaporkan bahwa pada musim panas kasus batu ginjal, khusus nya batu
jenis kalsium dan oksalat, kasusnya meningkat di daerah Eropa. Pada
muslin itu kasus kolik ginjal meningkat. Kasus ini lebih banyak diderita
oleh laki-laki dari perempuan.
Disebutkan ratio antara 3:1.
Terdapat kecenderungan familier. Pada bangsa kulit hitam lebih sering
terkena daripada bangsa kulit putih, hal ini ada hubungannya dengan
faktor diet. Umur yang sering terdapat penyakit ini, pada anak-anak ldi
bawah 5 tahun sedang pada dewasa sekitar umur 30-50 tahun. Batu ginjal
lebih sering diketemukan pada ginjal sebelah kanan jika dibanding dengan
ginjal sebelah kid, dimana 15-20% didapatkan bilateral.
Patogenesis
Dengan pemeriksaan yang teliti
pada pnderita dengan batu akan dapat ditunjukkan faktor penyebabnya
pada 40-50% kasus. Teori terjadinya batu ginjal masih belum dapat
dipastikan. Pada urin normal sendiri dijumpai satu atau beberapa zat
penghambat (fisiologis) yang mencegah terjadinya kristalisasi zat yang
ada sehingga tak terbentuk batu. Diperkirakan dengan membentuk suatu
komplek yang selalu larut dalam urin.
Zat penghambat tersebut adalah
magnesium pirofosfat, sitrat dan penghambat peptida. Zat-zat inilah
yang mencegah perkembangan batu pada area kalsifrkasi pada papilla ginjal
(Randall's plaque) dari kristal tunggal atau agregatagregat kecil lain,
yang umum terdapat pada urin, untuk kemudian berkembang menjadi besar
dan menempatkan diri pada sistem pelvikalik ginjal untuk kemudian
menjadi batu.
Perubahan pH urin atau adanya
kolloid lain akan menyebabkan terjadinya pengendapan. Asam urat,
xanthine, sistin dapat larut lebih banyak di dalam urin alkalis. Kalsium
oksalat hampir tak dapat larut pada pH urin berapa pun. Kalsium fosfat
dan triple fosfat kurang larut jikapH urin alkalis.
Adanya infeksi, stasis urin,
hipersekresi zat tertentu seperti kalsium, fosfor, oksalat, asam
urat dan sistin juga bisa menyebabkan terjadinya pengendapan. Pada
infeksi misalnya, akan dijumpai suatu ulserasi yang mana hal ini akan
menjadi nidus dari batu. Keadaan seperti gumpalan atau jendalan darah
dalam ginjal atau kelompokan bakteri, yang mana sering terjadi pada
stasis urin atau infeksi, akan menjadi nidus dari batu. Di samping itu,
kelainan pada anatomis ginjal
sendini seperti sponge kidney, horseshoe kidney ataupun adanya defek
lokal dari kalik glnjal atau penyumbatan, bisa menyebabkan tiinbulnya
nidusiatu karena kelainannya tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya batu :
a. Faktor di luar urin
- diet, misalnya diet yang banyak mengandung oksalat.
- intake cairan ke dalam tubuh, sehingga diduga adanya dehidrasi berpengaruh terhadap pembentukan batu pada daerah tropis.
- familier, khususnya untuk terbentuknya batu sistin.
- ras.
- trauma.
b. Faktor dalam urin :
- infeksi pada ginjal.
- kelainan aliran urin sehingga terjadi stasis.
- komposisi urin.
- kejenuhan urin.
- reaksi keasaman urin.
Jenis Batu
a. Menurut komposisi kimia
- batu urat; radiolusen, mudah
mengalir ke dalarn vesica urinaria, dijumpai pada urin dengan
suasana asam. Serihg dijumpai pada pasien yang mendapat terapi zat
uricosuric, intake purin yang tinggi baik sekunder atau idiopatik,
pasien yang mendapat terapi anti kanker yang menyebabkan perusakan jaringan/sel, sehingga terjadi kenaikan ekskresi asam urat, pada penyakit myelopro liferative.
- batu garam oksalat; kecil,
keras, berlapis, bentuk seperti jarum dan dijumpai pada urin dengan
suasana netral. Dijumpai pada pasien dengan oksaluria, baik kongenital
maupun familier, pada reseksi ileum, anestesi dengan metoksifluran dan
orang dengan diet oksalat yang tinggi.
- batu fosfat; mudah pecah dan dijumpai pada urin dengan suasana basa.
b. Menurut ada tidaknya kalsium :
- batu yang mengandung kalsium,
seperti batu kalsium oksalat, kalsium fosfat. Biasa dijumpai 'pasien
dengan hiperkalsiuria idiopatik, renal tubular acidosis, hiper
paratiroid primer, intake vitamin D berlebihan, intake susu berlebihan,
sarkoidosis, penyakit dengan kerusakan pada tulang (tiroksikosis, ekses
dari kortikosteroid), immobilisasi yang lama.
- batu tanpa kalsium, misalnya batu sistin yang biasanya dijumpai riwayat familier.
c. Menurut asal batu :
?batu endogen, yang terjadi karena hasil metabolisme.
?batu eksogen, yang akibat benda asing.
d. Menurut kejadian batu :
- batu primer, tak mempunyai nidus, terjadi pada urin yang steril dan berbentuk lapisan yang radier.
- batu sekunder, mempunyai nidus, berlapis-lapis dan kebanyakan pada urin non steril.
Untuk Pengobatan Tradisional atau yang memanfaatkan tumbuhan sebagai obat anda dapat membaca artikel : Peterseli Sebagai Obat Dan Pembersih Ginjal
Sumber : Dr. Jarot Hariyanto - Rumah Sakit Pertamina




{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Berkunjung ,, Jangan Lupa Berikan Komentarnya Untuk Artikel Ini